Telekomunikasi Point-To-Point atau Point-To-Multipoint (Terrestrial Fixed Services)

April 17, 2009

Fixed Services didefinisikan sebagai servis komunikasi radio antara titik-titik tertentu yang tetap, yang juga meliputi system radio point-to-point serta point-to-multipoint digunakan untuk Transmisi Suara, Video dan Informasi Data.

Di Indonesia penggunaan system radio fixed services point-to-point atau point-to-multipoint dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

Sistem Komunikasi Radio HF.

Sistem Komunikasi Radio VHF/UHF.

Sistem Komunikasi Radio Microwave Link.

Sistem Komunikasi Radio HF.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.53 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit pasal 22, permohonan izin stasiun radio untuk komunikasi point-to-point dengan lingkup terbatas tidak perlu menyertakan izin penyelenggaraan telekomunikasi.

Read the rest of this entry »


FM RADIO TECHNOLOGY (Bagian 1)

April 10, 2009

Sejak pertama kali mengudara sampai sekarang ini, radio broadcasting sebagai salah satu media penyiaran, menempati posisi cukup penting dalam ikut mencerdaskan kehidupan umat manusia. Radio semakin dirasakan sebagai sarana yang efektif untuk menyampaikan berita-berita maupun informasi penting dalam kehidupan kita sehari-hari.  Radio semakin dapat dijadikan saksi untuk berbagai peristiwa dalam interaksi kehidupan umat manusia modern. Salah satu penyebabnya adalah semakin berkembangnya perangkat penerima (radio receiver) yang berkualitas, namun harga semakin terjangkau, sehingga hampir semua lapisan masyarakat, baik yang hidup di kota-kota besar, di daerah pinggiran kota maupun di pedesaan dan bahkan di daerah pegunungan mampu untuk memilikinya.

Untuk penggunaan standar pre-emphasis di sisi transmitter, para broadcaster di negara kita  lebih banyak mengacu pada rekomendasi CCIR, yaitu menggunakan pre-emphasis 50 µs, namun biasanya perangkat FM transmitter yang ada di pasaran, selalu dilengkapi dengan minimal 3 pilihan pre-emphasis yaitu berturut-turut 0 (OFF), 50 µs dan 75 µs. Pre-emphases adalah suatu proses pengolahan (penguatan) signal audio yang dilakukan sebelum sinyal audio dimodulasi, yang bertujuan untuk meningkatkan signal to noise ratio agar audio yang diproses / ditransmisikan relatif tidak terpengaruh oleh noise bila ditransmisikan pada gelombang FM, yang memiliki frekuensi relatif tinggi. Hal ini perlu dilakukan karena semakin tinggi frekuensi, akan semakin tinggi pula kemungkinan timbulnya noise. Proses de-emphasis dilakukan pada sisi pesawat penerima (receiver) untuk mengembalikan audio pada amplitudo aslinya sebelum diteruskan kepada system pengolah / penguat audio (audio amplifier). Pemilihan pre-emphasis dan de-emphasis yang sesuai perlu dilakukan, untuk mencegah timbulnya cacat pada sisi penerima (receiver).  Penggunaan pre-emphasis yang tidak sesuai akan berpengaruh pada frequency response, khususnya akan dapat dirasakan di sisi pesawat penerima.

Komponen Utama FM Transmiter

Read the rest of this entry »


Black Burst atau Reference Sync atau Genlock

March 30, 2009

Di zamannya TVRI, beberapa kali kita, walau cuma beberapa detik. disuguhkan acara dimana gambarnya kepotong di tengah, waktu itu kita tidak tahu kenapa bisa begitu, tahunya adalah kesalahan teknis. Di zaman sekarang ini, masih ada juga (walaupun sudah sangat jarang) kejadian seperti itu, dimana, tiba-tiba gambarnya di tengah, dan perlahan-lahan naik atau turun sebelum kembali ke frame semula, mungkin karena sudah dibenerin? Sebenarnya, mengapa hal itu bisa terjadi? Di kalangan broadcast engineer, biasanya langsung menduga bahwa hal itu terjadi karena genlocknya hilang (genlocknya gak ada) sehingga gambarnya tidak sync. Ada beberapa penyebutan untuk genlock tersebut, ada yang bilang sync , black burst atau sync reference sebenarnya makhluk apakah itu?

Read the rest of this entry »


Digital TV: Sampling Process

March 17, 2009

Televisi konvensional analog mengirimkan gambar secara terus-menerus, 625 garis per-frame, 25 frame per detik, meskipun gambar yang dikirimkan tersebut adalah gambar diam. Sementara pada televisi digital, gambar dibagi-bagi kedalam segmen-segmen yg berisi elemen-elemen gambar terkecil yang disebut pixel. Pixel tersebut terbentuk dari bitstream yang mengandung informasi tentang posisi koordinat pixel pada gambar, serta level luminance dan chrominance-nya.

Segmentasi sebuah tayangan dimulai dari sebuah sample block (pixel block) berupa matrix titik 8×8, yang mempunyai reference value dalam bentuk time domain. Bentuk time domain yang sangat informatif ini menyatakan informasi level luminance dan chrominance setiap pixel (64 pixel). Sample block ini mempresentasikan area dari sebuah tayangan. Penerima televisi digital melakukan decoding pixel demi pixel dari digital message ini untuk membentuk kembali frame lengkap dengan hasil yang mendekati sempurna.

Read the rest of this entry »


White Balance

March 10, 2009

Dalam dunia fotografi, white balance sebenarnya digunakan untuk menormalisasi warna yang ditangkap di atas film yang seringkali tidak alami karena faktor-faktor tertentu, misalnya cahaya atau faktor lain. Contohnya, ketika sinar matahari memasuki kedalaman di bawah air, secara perlahan-lahan warna-warna akan menghilang di kedalaman tertentu. Warna merah akan menghilang di kedalaman 5 meter, warna kuning di kedalaman 10 meter, sampai akhirnya warna biru dan hijau saja yang tersisa di atas kedalaman 18 meter [Majalah Behind the Screen Vol2 #11 | September 2006]. Untuk mengembalikan warna tersebut, digunakan filter white balance pada kamera manual, atau manual white balance setting untuk kamera digital yang tidak mendukung pemasangan filter.

Akan tetapi selain digunakan untuk mengembalikan warna yang hilang, seringkali white balance dimanfaatkan untuk memberi efek visual pada foto. Misalnya filter CPL untuk mempertajam warna biru, filter Sephia untuk memberikan efek kusam seperti foto-foto jadoel.

Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.